Pemahaman Modul 2

Menggali Potensi dan Kemampuan Anak

                                                                                                                                               

1.       Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah hal baru dalam dunia pendidikan. Sadar atau  tanpa disadari kita telah melakukannya dalam kelas yang kita kelola. Contohnya saat kita memberikan pengayaan terhadap anak yang cepat menyelesaikan tugas atau saat kita memberikan tugas yang berbeda sesuai dengan minat anak. Semua itu kita lakukan untuk kemajuan anak didik kita.

Pembelajaran berdiferensiasi  merupakan salah satu wujud untuk melaksanakan merdeka belajar. Dalam pembelajaran ini, semua anak dipandang memiliki potensi dan kemampuan masing-masing. Dengan pemetaan kebutuhan belajar yang kita laksanakan di awal tahun ajaran merupakan salah satu langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi.

Banyak cerita yang  mengisahkan tentang pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu contohnya adalah cerita sekumpulan hewan di hutan yang hendak mencari makan. Ikan tidak bisa mencari makan di darat, karena dia hanya bisa hidup di air dan pandai berenang. Monyet tidak bisa disuruh mencari makanan di laut. Monyet hanya melompat dan bergelantungan di pohon.

Begitu juga anak didik kita. Tidak semua anak pandai dalam segala bidang. Tugas kita sebagai guru dalam membimbing dan menuntun mereka agar bisa menyelesaikan tugas dan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

2.       Kompetensi Sosial dan Emosional.

Kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap kinerja dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.  Dengan kompetensi sosial dan emosional yang bagus, seseorang dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Namun jika kompetensi sosial dan emosional yang dimilikinya rendah, maka potensi dan kemampuan dalam dirinya tidak akan berkembang.

Kompetensi sosial dan emosional yang harus dimilki yaitu

  • Pertama keterampilan sosial (Resiliensi) atau kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah yang dihadapinya dan bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Bisa menggunakan tekni 4S dan 3I.
  • Kedua pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dimana seseorang bisa menanggung resiko akan keputusan yang telah diambilnya. Bisa menggunakan teknik POOCH.
  • Ketiga kesadaran diri (pengenalan emosi) dengan mengelola 6 emosi dasar.
  • Keempat pengelolaan diri (Pengelolaan emosi dan fokus) bisa menggunakan teknik STOP.
  • Kelima kesadaran sosial (empati) terhadap orang lain dan lingkungannya. Bisa menggunakan 3 pertanyaan.

3.       Coaching

Coaching, coach dan coachee merupakan kata yang memiliki arti yang berbeda. Coaching adalah aktifitas dalam menggali potensi dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah. Coach adalah orang membantu menyelesaikan masalah seseorang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mampu menggali potensi dan kemampuan seseorang. Sedangkan coachee adalah orang yang dibantu coach dalam menyelesaikan masalah dengan kemampuan dan potensinya sendiri.

Coaching merupakan salah satu proses menuntun belajar murid untuk mencapai kodratnya. Guru dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan yang reflektifdan efektif sehingga bisa membentuk metakognisi anak. Salah satu model yang biasa dipakai dalam coaching adalah model TIRTA.

Ada beberapa keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang coach yaitu :

  • Keterampilan membangun hubungan baik (kemitraan)
  • Keterampilan berkomunikasi. Dalam hal ini komunikasi yang memberdayakan (Komunikasi asertif, pendengar aktif, bertanya afektif, umpan balik positif)
  • Keterampilan memfasilitasi pembelajaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara masuk ke kelas maya portal Rumah Belajar

Sistem pencernaan, pernafasan dan peredaran darah pada manusia

pembelajaram ekosistem